Jendela Dunia
Headlines News :

Latest Post

Di Desa Ini Manusia Dan Ular Hidup Berdampingan

Written By radde on 24 Februari, 2013 | 19.43

Thailand memiliki alam indah yang hampir sama indahnya dengan Indonesia. Ada juga yang unik di Negeri Gajah ini, yaitu sebuah desa yang dipenuhi ular!

Desa ini bernama Ban Kok Sa-Nga yang terletak di Provinsi Khon Kaen, sebelah timur laut Thailand. Di kalangan wisatawan, desa ini lebih dikenal dengan nama Desa Kobra.


Sekitar 140 rumah di desa ini setidaknya memiliki satu ular peliharaan, yang mereka kandangkan di luar rumah, di dalam boks kayu. Ularnya beragam, mulai dari yang berbisa, seperti King Kobra, hingga yang sedikit tidak berbahaya, seperti piton.

Atmosfir di desa ini juga selalu meriah, seperti sebuah atraksi pertunjukan ular yang besar. Ular-ular ini dibesarkan dalam kurungan dan dijadikan bintang dalam pertunjukan yang cukup menegangkan, seperti pertunjukan tinju antara manusia dengan ular.


Yang membuat wisatawan ngeri sekaligus takjub saat berkunjung ke desa ini mungkin bukanlah pertunjukan ularnya, melainkan bagaimana penduduk desa begitu akrab dengan hewan berbahaya.

Bahkan, anak-anak sudah biasa memegang ular karena sejak kecil dilatih menangani ular, memberi makan, dan melawannya bila diserang.

Namun kabarnya, banyak wisatawan mati akibat serangan ular ketika berkunjung ke desa ini.

Masih belum jelas kebenarannya, namun diakui bahwa bahkan penduduk desa yang sudah akrab dengan ular pun pernah mendapat serangan hewan melata ini.

 
Contohnya, Bualee Chai, yang merupakan pawang ular paling ternama di desa ini. Di usianya yang sudah mencapai 72 tahun, ia pernah 21 kali digigit ular namun masih sehat hingga kini.

Yang jelas, bagi penduduk desa ini, ular adalah bagian dari keluarga mereka. “Apabila ular saya mati, saya akan sangat sedih. Apabila ada ular mati di desa ini, kami akan memberikan sesajen untuknya di kuil,” tutur Chai 


Selain melihat ular, Anda juga bisa membeli hewan tersebut di desa ini. Seekor ular biasanya dihargai Rp1,6 juta hingga Rp2 juta.
sumber

Foto Cantik Dan Seksi Park BOM

Park Bom lahir di kota seoul, Korea selatan pada tanggal 24 Maret 1984. Dia termasuk artis cantik dan sexy korea dan sampai saat ini menjadi anggota dan vokalis utama dari girl band 2NE1. Sampai sekarang, Park telah merilis dua singel solo, yakni "You and I" dan "Don't Cry". Di dalam keluarga Park Bom adalah putri kedua, awalnya dia tidak direstui orang tuanya untuk berkarir dibidang musik, tetapi secara diam - diam dia mendapatkan dorongan dari bibinya.






 



 



sumber

Mengintai Dan Mencegah Ledakan Astoroid Di Bumi


Jatuhnya meteorit atau tertabraknya Bumi oleh asteroid dan komet adalah sebuah keniscayaan. Tapi, kapan hal itu terjadi, tak banyak diketahui manusia. Sejumlah cara dikembangkan para ahli untuk memantau gerak batuan antariksa di sekitar Bumi, juga teknik menangkal saat akan mendekati Bumi.

Musnahnya dinosaurus 65 juta tahun lalu atau terbakarnya hutan seluas Jakarta di Tunguska, Siberia, Rusia, tahun 1908 adalah bukti keganasan batuan antariksa saat menghantam Bumi. Seiring bertambahnya jumlah manusia dan masifnya pertumbuhan kota, ancaman jatuhnya benda-benda langit kian nyata.

”Jatuhnya meteor di Chelyabinsk, Rusia, dan melintasnya asteroid 2012 DA14, mengingatkan manusia bahwa ribuan obyek seperti itu melintasi di dekat Bumi tiap hari,” kata Ray Williamson, penasihat senior Yayasan Dunia Aman (Secure World Foundation) di sela pertemuan Komite Badan PBB untuk Pemanfaatan Damai Antariksa (Copuos) di Vienna, Austria

Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) melalui program Widefield Infrared Survey Explorer pada 2011 memperkirakan ada 19.500 asteroid berukuran menengah di dekat Bumi. Asteroid itu berdiameter antara 100 meter dan 1.000 meter.

Sekitar 90 persen asteroid berukuran lebih dari 1.000 meter sudah ditemukan. Adapun yang berdiameter puluhan meter, seperti asteroid 2012 DA14 dan yang jatuh di Tunguska, baru 2 persen yang diketahui. Asteroid berdiameter kurang dari 100 meter diperkirakan berjumlah lebih dari 1 juta buah.

”Makin kecil ukurannya, makin banyak jumlahnya, makin sedikit yang sudah diketahui,” ujar Profesor Riset Astronomi Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Thomas Djamaluddin.

Masih rendahnya pengetahuan manusia tentang asteroid membuat sejumlah program dan wahana antariksa untuk memantau terus dibuat. Salah satunya adalah teleskop antariksa Sentinel yang dikembangkan lembaga swasta yang dikelola sejumlah mantan antariksawan, Yayasan B612.

Rencana pembuatan teleskop inframerah ini diumumkan 28 Juni 2012. Misi utamanya adalah menemukan 90 persen asteroid berukuran lebih dari 140 meter. Teleskop ini seharusnya juga mampu mendeteksi asteroid lebih kecil dalam misinya selama 6,5 tahun.

Ada pula OSIRIS-REx, wahana yang akan diluncurkan tahun 2016. Wahana ini akan mencegat asteroid RQ36 pada 2020 untuk mengambil sampel batuannya dan mempelajari lebih detail karakter orbitnya. Asteroid ini diperkirakan menabrak Bumi 170 tahun mendatang.

Menendang asteroid

Sesudah mendeteksi keberadaan asteroid, langkah selanjutnya adalah menangkis asteroid yang berpotensi membahayakan Bumi. Para ahli sepakat, langkah terbaik menghindarkan Bumi ditabrak asteroid adalah membelokkan lintasan asteroid.

Teknik membelokkan lintasan asteroid beragam. Sejumlah kemungkinan dikaji mengingat obyek yang disasar adalah batuan yang bergerak cepat mengelilingi Matahari dan berotasi.

Asisten Profesor Fisika dan Astronomi di Universitas Anderson, Indiana, AS, John P Millis dalam tulisan di situs space.about.com menyatakan, teknik sederhana yang diusulkan antara lain mengebom asteroid itu dengan nuklir dari Bumi. Ledakan yang ditimbulkan akan menggeser asteroid dari lintasannya.

Robert Lamb, penulis sains di howstuffworks.com menyatakan, pengeboman bukan untuk menghancurkan asteroid, melainkan mengurai sebagian badan asteroid. Berat yang makin ringan akan mengubah jalur asteroid.

Sebagian ahli menilai, pengeboman adalah berlebihan karena batuan asteroid yang keluar bisa menjadi peluru kosmis yang membahayakan kehidupan sekitar Bumi. ”Minimal, bisa membahayakan satelit geostasioner,” kata dosen Dinamika Benda Kecil dalam Tata Surya, Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung, Budi Dermawan.

Cara lain pun dikembangkan, yaitu mengirim pencegat kinetik (kinetic interceptor). Metode ini mirip permainan bola boling yang menjatuhkan pin hanya dengan sedikit sentuhan. Saat asteroid ditumbuk dengan peralatan berkecepatan 1,6 kilometer per jam, maka asteroid akan bergeser sejauh 273.500 km dari jalur normalnya jika dilakukan 20 tahun sebelumnya.

Lamb menambahkan, ide pembelokan orbit asteroid terkadang seperti bermain-main. Beberapa di antaranya dengan mengecat asteroid dengan warna putih atau memasang layar raksasa di asteroid.

Pantulan sinar warna putih dapat dimanfaatkan sebagai pendorong asteroid. Adapun layar yang dipasang dengan memanfaatkan angin Matahari juga berfungsi sebagai pendorong asteroid menjauhi jalurnya.

Ada pula yang mengusulkan menjerat asteroid dengan serat karbon pada bagian tertentu. Cara lain adalah menempatkan sejumlah roket pada beberapa bagian asteroid untuk mengubah lintasan geraknya.

Namun, banyak ahli pesimistis dengan cara-cara pembelokan orbit asteroid dengan memasang sesuatu pada asteroid. Ini karena implementasi berbagai cara itu tidak semudah dan sesederhana idenya.

”Persoalan ini harus diatasi dengan cara yang logis dan rasional,” kata Philip M Lubin, ahli fisika dari Universitas California, Santa Barbara, AS.

Konversi sinar Matahari

Lubin dan rekan-rekan mengembangkan sistem Directed Energy Solar Targeting of Asteroids and Exploration (DE-STAR). Teknik ini dilakukan dengan menangkap sinar Matahari dan mengonversi menjadi sinar laser pada sebuah panel besar. Sinar ini akan membelokkan jalur asteroid atau menguapkan sebagian badan asteroid.

Elemen dasar yang dibutuhkan untuk mewujudkan wahana ini tersedia cukup banyak. Namun, kesulitannya adalah meningkatkan kapasitas elemen- elemen yang digunakan hingga mampu mengganggu orbit asteroid yang ukurannya cukup besar.

Pengembangan sistem ini pun tak murah. Karena itu, kerja sama antarahli dan badan antariksa global diperlukan untuk menyelamatkan manusia dari ancaman kepunahan.
Sumber

Ini Dia Planet Terkecil Di Dunia


Astronom menemukan sekitar 800 planet mini di jarak yang jauh dari Tata Surya. Salah satu planet menjadi planet yang terkecil, dengan ukuran cuma sebesar Bulan.

Planet terkecil tersebut diberi nama Kepler 37b. Planet tersebut mengelilingi bintang serupa Matahari, terletak di konstelasi Lyra, sekitar 10 triliun kilometer dari Bumi.

"Kami melihat planet raksasa sangat tak biasa. Planet seukuran Bumi lebih umum, jadi prediksi kami, planet kecil juga umum," ungkap Thomas Barclay, astronom yang terlibat proyek riset ini.

Ukuran planet Kepler-37b ini hanya sedikit lebih besar dari pada Bulan yang mengitari Bumi. Namun, planet tersebut memiliki dua planet kembaran lain, Kepler -37c dan Kepler 37d.

Kepler -37b berjarak 10 kali lebih dekat dari bintangnya dibandingkan dengan Bumi dengan Matahari. Jadi, suhu planet ini sangat panas, mencapai 427 derajat Celsius.

"Planet yang satu ini jauh dari zona layak huni," ungkap Eric Ford, astronom University of Florida

Pada sistem tata surya kita, Merkurius adalah planet terdekat dengan Matahari. Astronom mengibaratkan Kepler 37b seperti Merkurius mini.

Rekan Kepler -37b, Kepler-37c, berukuran lebih kecil dari Venus dan mengitari bintang induknya selama 21 hari. Sementara Kepler-37d ukurannya dua kali lipat Bumi, berevolusi tiap 40 hari.

Penemuan-penemuan planet kecil adalah kemajuan dalam astronomi. Sebelumnya, astronom cuma dapat mendeteksi planet raksasa.

"Ketika kami pertama kali menemukan eksoplanet, semuanya berukuran jauh lebih besar dari apa yang ada di sistem Tata Surya ini. Kami tak tahu ada planet berukuran lebih kecil," kata Barclay.

"Penemuan ini adalah kali pertama kami dapat menemukan planet dalam rentang terkecil, lebih kecil dari apapun yang ada di sistem tata surya kita," tambahnya.

Planet-planet ini ditemukan dengan metode transit, melihat kedipan cahaya bintang ketika ada planet lewat di mukanya. Makin seikit peredupannya, maka makin kecil planetnya.
Sumber

Matahari Punya Saudara Kembar ?

ilustrasi lapisan Matahari
Keberadaan bintang Alpha Centauri A yang cuma "selemparan batu" dari Matahari telah lama diketahui. Namun, ilmuwan baru saja mengetahui bahwa Matahari dan Alpha Centauri A ternyata kembar, punya karakteristik yang sama.

Matahari terdiri dari beberapa lapisan. Lapisan terluar dan terpanas disebut korona, dengan suhu bisa mencapai jutaan derajat celsius.

Di antara lapisan Matahari yang panas, ternyata ada lapisan "dingin". Fotosfer yang biasa tampak dari Bumi cuma bersuhu 6.000 derajat celsius. Sementara suhu lapisan kromosfer lebih dingin lagi, hanya 4.000 derajat celsius.

Dalam penelitian terbaru, ilmuwan menemukan bahwa Alpha Centauri A juga memiliki lapisan "dingin" di antara wilayahnya yang sangat panas.

"Penelitian mengenai struktur ini hingga kini dibatasi pada Matahari saja. Namun, kami melihat dengan jelas tanda-tanda pelapisan suhu yang sama pada Alpha Centauri A," kata Rene Liseau, astronom Onsala Space Observatory, penulis utama publikasi penemuan ini.

Temuan ini penting karena dapat membantu astronom memahami aktivitas matahari. Di samping itu, temuan juga dapat membantu mengungkapkan sistem protoplanet yang mengelilingi bintang lain.

"Observasi detail mengenai hal ini pada berbagai bintang dapat membantu kita menguraikan asal-muasal lapisan tersebut dan teka-teki pemanasan atmosfer Matahari secara keseluruhan," tambahnya

Liseau menambahkan, "Meski hanya berupa efek kecil, daerah suhu minimum di bintang lain dapat membantu kita memahami jumlah debu yang ada di lapisan dingin di sekitarnya."

"Dengan dibantu gambaran detail mengenai bagaimana Alpha Centauri A bersinar, kita bisa berharap dapat membuat deteksi yang lebih akurat tentang debu dalam sistem pembentukan planet di sekitar bintang yang menyerupai matahari."

Hasil penelitian Liseau dan rekannya dipublikasikan di jurnal Astronomy & Astrophysics.
Sumber

Bukti Kebehasilan NASA Mengebor Batu Di Mars

Serbuk batu John Klein, bukti keberhasilan pengeboran wahana antariksa Curiosity di Mars.
Misi pendaratan di Bulan sering diragukan dan dianggap hoax? Bagaimana dengan misi pengeboran Mars? Jika ada yang menganggapnya hoax, mungkin perlu melihat foto yang baru saja dirilis Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA)

Foto itu adalah hasil pemotretan kamera yang terpasang di wahana Curiosity pada hari ke-193 penjelajahannya di Mars (waktu Mars). Dalam gambar terlihat serbuk batuan disimpan dalam sebuah wadah kecil berukuran 4,5 cm, sebagai bukti hasil pengeboran batu Mars.

“Melihat serbuk hasil pengeboran ditempatkan dalam wadah memberikan kita keyakinan bahwa untuk pertama kalinya bahwa bor mengumpulkan sampel hasil pengeborannya,” kata Scott McClosekey, peneliti di Jet Propulsion Laboratory NASA, perekayasa sistem pengeboran untuk Curiosity

Serbuk batu hasil pengeboran itu didapatkan dengan alat bor yang terpasang di lengan Curiosity. Alat bor membuat lubang sedalam 6,4 cm pada batu target yang dinamai John Klein. Pengeboran dilakukan 8 Februari 2013 lalu.

Dalam foto, serbuk batu berada di sekop yang merupakan bagian dari perangkat Collection and Handling for In-Situ Martian Rock Analysis (CHIMRA). Serbuk akan disimpan di CHIMRA dan disaring. Partikel berukuran lebih dari 0,006 inchi akan dipisahkan.

Ilmuwan akan menggunakan hasil penyaringan untuk menganalisis komposisi serbuk batu Mars itu. Mereka bakal menggunakan perangkat Chemistry and Mineralogy (CheMin) dan Sample Analysis at Mars (SAM).

Batu John Klein dipilih sebagai target pengeboran pertama di Mars sebab dipercaya menyimpan informasi tentang lingkungan basah Mars di masa lalu. Analisis serbuk batuan hasil pengeboran diharapkan dapat menguak misteri tersebut.
Sumber

Markuarius Planet Yang Pernah Menjadi Lautan Magma

Citra Merkurius yang diambil wahana antariksa MESSENGER.
Data sains dari wahana NASA yang mengorbit Planet Merkurius, MESSENGER (MErcury Surface, Space ENvironment, GEochemistry, and Ranging), memberi petunjuk bahwa planet ini pernah memiliki lautan magma.

Kesimpulan ini didapat setelah para peneliti menganalisis data fluoresensi X-Ray dari wahana tersebut. Mereka mengindentifikasi adanya dua komposisi batu yang berbeda di permukaan planet. Muncul pertanyaan, proses geologi apa yang terjadi sehingga menghasilkan permukaan yang berbeda?

Untuk menjawabnya, tim dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mencipta ulang dua tipe batu tersebut di laboratorium. Masing-masing batu kemudian dipaparkan dengan temperatur dan tekanan tinggi untuk menstimulasi proses geologi yang beragam. Dari hasil percobaan, para peneliti menyadari hanya ada satu fenomena untuk menghasilkan dua komposisi tersebut dalam lautan magma.

Lautan magma yang luas menciptakan dua lapisan kristal, dipadatkan, yang akhirnya menghasilkan letusan magma di permukaan Merkurius. Hebatnya, menurut Timothy Grove sebagai profesor geologi di MIT, kondisi ini tidak terjadi kemarin.

"Lapisan ini mungkin berusia empat miliar tahun lalu, jadi lautan magma ini merupakan fitur purba," ujar Grove yang bersama beberapa peneliti lain mengeluarkan hasil peneliti ini dalam jurnal Earth and Planetary Science Letters.

Ditambahkan Larry Nittler, staf peneliti dari Department of Terrestrial Magnetism di Carnegie Institution of Washington, AS, hasil penelitian ini merupakan petunjuk awal dari sejarah Merkurius. Meski nantinya akan ada perubahan kesimpulan melalui penelitian-penelitian lain, studi ini akan menjadi kerangka awal pemikiran dari data yang baru.
Sumber

Sains

More on this category »

Pemilu 2014

More on this category »
 
Contact Us : Disclaimer | Advertise With Us
Copyright © 2013 Jendela Dunia - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger