Jendela Dunia
Headlines News :

Latest Post

Alasan Kenapa Albert Einstein Jenius

Written By radde on 25 November, 2012 | 10.10

Peneliti dari Florida State University, Dean Falk, mengungkap salah satu alasan mengapa Einstein memiliki kecerdasan tinggi (genius). Ia mengatakan bahwa kecerdasan Einstein dipengaruhi oleh bentuk otaknya yang unik.

Falk, bersama Frederick E Leopore dari Robert Wood Johnson Medical School dan Adrianne Noe dari Museum of Health and Medicine, mengobservasi korteks otak besar Einstein yang didokumentasikan dalam 14 foto dan membandingkannya dengan 85 otak manusia lainnya.

Melihat hasilnya, Falk menjelaskan, "Meskipun ukuran dan bentuk asimetri otak Einstein secara keseluruhan normal, bagian depan otak depan, bagian somatosensori, motor primer, lobus parietal, korteks temporal, dan oksipitalis-nya luar biasa."

Somatosensori adalah bagian otak yang berkaitan dengan pancaindera. Bagian primer motor ialah bagian otak yang bertanggung jawab mengeksekusi aktivitas tertentu. Korteks oksipitalis bertanggung jawab untuk kemampuan melihat sementara temporal untuk berbicara.

Falk Mengatakan, "Sifat-sifat itu mungkin menjadi dasar-dasar neurologis, misalnya pada kemampuan penglihatan dan spasial serta matematika Einstein."

Hasil penelitian Falk dan rekannya dipublikasikan di jurnal Brain dengan judul "Lapisan Otak Besar Albert Einstein: Denskripsi dan Analisis Awal dari Foto-foto yang Belum Dipublikasikan."

Saat Einstein meninggal tahun 1955, bagian otak diambil dan difoto atas izin keluarganya. Otak itu dibagi dalam 240 bagian serta dibuat preparat serta fotonya. Koleksi sempat hilang selama 55 tahun sebelum akhirnya ditemukan dan disimpan di National Museum of Health and Medicine.

Makalah juga memublikasikan roadmap otak Einstein yang disiapkan pada tahun 1955 oleh Thomas Harvey untuk mengilustrasikan 240 bagian otak Einstein. Roadmap itu membantu menunjukkan lokasi dari preparat otak yang ditemukan baru-baru ini.
Sumber

Air Yang Ada Di Bumi Dan Mars Berasal Dari Sumber Yang Sama

Air di Mars dan Bumi berasal dari sumber yang sama, meteorit yang mendarat di planet tersebut dalam masa awal pembentukannya.

Ilmuwan menganalisis komposisi dua batuan langka Mars yang mendarat di Bumi sebagai meteorit. Analisis menunjukkan bahwa air yang ada di planet merah itu berasal dari benda langit yang sama.

Hasil riset ini berlawanan dengan pandangan bahwa air di Bumi dan Mars berasal dari komet. Air berasal dari meteorit chondrite yang memiliki mineral yang bisa terintegrasi dengan planet tempatnya mendarat.

"Meteorit itu memiliki cairan basalt, cairan basalt yang berbeda dengan hasil erupsi gunung berapi di Hawaii," kata John Jones, peneliti di Johnson Space Center, Badan Penerbangan dan Antariksa NASA, di Houston.

Meteorit yang dianalisis merupakan sampel murni yang memiliki unsur-unsur yang mudah menguap di lingkungan Mars. Meteorit tersebut juga merepresentasikan dua sumber air berbeda di Mars.

Salah satu meteorit berasal dari lapisan mantel Mars, dengan kuantitas air di wilayah itu sama dengan hidrogen di Bumi. Sementara meteorit lain diperkaya dengan unsur-unsur yang terdapat di lapisan dangkal dan atmosfer Mars.

Meteorit yang berasal dari mantel menunjukkan bahwa bagian dalam Mars kering. Meteorit lainnya menunjukkan bahwa permukaan Mars pernah sangat basah pada suatu waktu.

"Ada beberapa teori yang bersaing dalam menerangkan keberagaman komposisi meteorit Mars. Hingga studi ini, belum ada bukti langsung bahwa lava primitif memiliki material dari permukaan Mars," ungkap Tomohiro
Sumber

Awas ! 7 Merek Pakaian Branded Di Indonesia Mengandung Racun

Pakaian branded dan mahal tak selamanya lebih baik. Greenpeace mengungkap tujuh merek pakaian ternama yang diproduksi dan atau dijual di Indonesia mengandung bahan beracun.

Fakta tersebut termuat dalam laporan investigasi Greenpeace yang bertajuk "Benang Beracun-Merek Fashion Ternama Terjahit Dengannya".

Koordinator Water Patrol Greenpeace Indonesia, Hilda Meutia, menguraikan bahwa untuk di Indonesia, investigasi dilakukan dengan mengoleksi empat sampel produk yang dijual di Indonesia dan delapan sampel yang diproduksi di Indonesia.

"Kami membeli pakaian itu di cabang-cabang resmi, memastikan yang kami beli tidak palsu. Sampel kami kirim ke laboratorium Greenpeace di London," katanya.

Hasil investigasi mengungkap, sebanyak 80 persen produk yang dijual di Indonesia mengandung racun. Untuk produk yang diproduksi di Indonesia, persentase yang mengandung racun adalah 75 persen.

Merek-merek pakaian yang dijual di Indonesia dan mengandung racun adalah Armani, Esprit, GAP, Mango, dan Marks & Spencer, sementara merek yang diproduksi di Indonesia dan mengandung racun adalah Calvin Klein, Esprit, GAP, Levi's, dan Marks & Spencer.

Jenis racun yang terdapat dalam produk pakaian itu adalah NPEs (Etoksilat polifenol). Hilda mengungkapkan, senyawa itu adalah surfaktan yang berfungsi sebagai emulsifier.

Adanya senyawa NPEs dalam produk menunjukkan pemakaiannya dalam proses produksi. Senyawa ini bisa terlepas ke lingkungan perairan saat produk dicuci dan berpotensi merusak ekosistem air dan makhluk hidup di dalamnya atau yang menggunakannya.

Riset menunjukkan, NPEs dapat berfungsi beraksi seperti hormon estrogen, membuat ikan jantan menjadi feminin. Lewat rantai makanan, senyawa berpotensi masuk dalam tubuh manusia dan menyebabkan gangguan hormon.

Ahmad Ashov, Juru Kampanye Air Bebas Racun Greenpeace Indonesia, mengatakan, tujuan laporan ini adalah mengajak para produsen pakaian untuk tidak menggunakan bahan beracun dalam produksinya.

"Greenpeace menuntut merek fashion untuk berkomitmen terhadap nol pembuangan bahan kimia berbahaya pada tahun 2020, H & M dan M & S, dan meminta pemasok mereka untuk mengungkapkan semua bahan kimia beracun yang dilepaskan dari fasilitas mereka kepada masyarakat di sekitar lokasi pencemaran air," katanya.

Ahmad mengatakan, lokasi industri tekstil banyak berlokasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jakarta. Dengan praktik tak ramah lingkungan, bahan beracun berpotensi merusak wilayah-wilayah tersebut.
Sumber

Ada Pulau Yang Hilang dari Permukaan Bumi

Sebuah pulau "menghilang" dari permukaan Bumi. Hal ini disadari oleh Maria Seton, ilmuwan dari University of Sydney yang mencari keberadaan pulau tersebut dalam ekspedisi geologi.

Pulau yang "hilang" itu dalam Google Earth tampil sebagai Sandy Island, terletak di Laut Koral, di antara Australia dan Kaledonia Baru.

Pulau tersebut juga dikenali keberadaannya sebagai Sable Island dalam Times atlas of the World. Lembaga maritim Australia, Southern Surveyor, juga menyatakan pulau itu eksis.

Yang mengejutkan adalah, saat Southern Surveyor melakukan penelitian untuk mengidentifikasi fragmen daratan yang tenggelam di Laut Koral, pulau itu tak ditemukan.

"Kami ingin mengeceknya sebab navigasi di kapal menunjukkan kedalaman 1.400 meter di area tersebut, sangat dalam," kata Seton

"Pulau itu ada di Google earth dan peta lain jadi kami mengeceknya dan tak menemukan apapun. Ini benar-benar teka-teki. Ini aneh. bagaimana ini ada di peta, kami tak tahu," lanjut Seton.

"Hilangnya" pulau ini banyak dibicarakan di media sosial. Seorang bernama Charlie Loyd menunjukkan bahwa pulau ini juga ada di peta Yahoo dan Bing.

Di www.abovetopsecret.com, diskusi juga berlangsung. seseorang yang mengonfirmasi badan penelitian hidrografi Perancis mengatakan, pulau itu ialah pulau "khayalan" dan telah dihapus dari peta sejak 1979.

Google menyatakan bahwa pihaknya terbuka akan setiap respon dan siap mengintegrasikan informasi baru dari pengguna atau rekanannya ke Google Map.

"Kami bekerja dengan berbagai pihak dan sumber data komersial untuk memberikan peta yang paling kaya dan terbaru kepada pengguna," kata juru bicara Google.

Badan Hidrografi dari angkatan laut Australia menyatakan, "Salah satu yang menarik dari peta dan geografi adalah bahwa dunia ialah tempat yang terus berubah dan menyesuaikan terhadap perubahan ini adalah usaha yang tak akan pernah berakhir."
Sumber

Peneliti Indonesia Temukan Mikroba AntiKanker

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menemukan senyawa aktif lipistatin dari mikroba tanah. Senyawa ini berpotensi menjadi obat baru antikanker dan antikolesterol.

”Dari hasil penelitian saya, dibutuhkan uji praklinis,” kata Muhammad Hanafi, peneliti pada Pusat Penelitian Kimia LIPI, setelah orasi pengukuhannya sebagai profesor riset bidang kimia organik di Jakarta.

Ketua Majelis Profesor Riset yang juga Kepala LIPI Lukman Hakim mengukuhkan pula dua peneliti lain. Sam Wouthuyzen dikukuhkan sebagai profesor riset bidang ilmu oseanografi dan Yekti Maunati sebagai profesor riset bidang antropologi.

Hanafi mengatakan, sumber bahan baku obat sangat melimpah. Namun, sampai sekarang belum tergali maksimal.

Tumbuhan dan mikroba yang diisolasi Hanafi untuk menemukan lipistatin meliputi Garcinia, Curcuma, Hedyotis, (tanaman) Pseudomonas, dan Streptomyces (mikroba). Saat ini dibutuhkan kerja sama dengan industri untuk uji praklinis pada hewan percobaan, dilanjutkan uji klinis pada manusia.

Sam Wouthuyzen memaparkan, pemanfaatan pengindraan jauh untuk pemetaan, pemantauan, evaluasi, dan pengelolaan wilayah pesisir Indonesia. Adapun Yekti Maunati memaparkan identitas etnik minoritas di perbatasan Asia Tenggara.

Lukman mengatakan, pembangunan wilayah pesisir sebaiknya menggunakan fondasi hasil pengindraan jauh. Wilayah pesisir dapat menjadi andalan masa depan.
Sumber

Cara Burung Beo Menyapa Lawan Bicaranya

Ada temuan menarik yang dilakukan oleh Thorsten Balsby, peneliti dari University of Aarhus, dan beberapa rekannya dari University of Copenhagen, Denmark, terkait kemampuan luar biasa yang dimiliki burung beo. Kemampuan tersebut adalah mengikuti suara apapun yang mereka dengar, baik mereka yang tinggal di alam bebas, ataupun yang tinggal dalam penangkaran.

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal PLoS One, salah satu spesies beo, yakni orange-fronted conure (Aratinga canicularis), kemungkinan telah mengembangkan kemampuan ini agar dapat berkomunikasi dengan lancar dengan individu tertentu yang ada dalam kumpulannya.

Para peneliti menyebutkan, di alam bebas, orange-fronted conure tinggal dalam kumpulan yang dinamis. Di mana setiap individu bisa keluar dan masuk ke dalam kelompok tersebut kapan saja. Dengan demikian, setiap burung bertemu dengan individu yang berbeda setiap harinya.

Dari pengamatan, terungkap bahwa setiap individu burung ternyata memiliki suara panggilan yang berbeda-beda. Baik di alam bebas ataupun di penangkaran tempat peneliti melakukan studi, burung beo yang mendengar tiruan suara panggilan mereka sendiri merespons lebih sering dan lebih cepat terhadap panggilan dari burung lain yang menirunya dibandingkan dengan burung yang dipanggil namun bukan dengan tiruan suaranya.

Berdasarkan pengamatan ini, para peneliti mengindikasikan bahwa burung beo kemungkinan telah mengembangkan kemampuan ini sebagai mimik. Sehingga mereka bisa "memulai pembicaraan" dengan burung tertentu dalam kelompok yang bersangkutan dengan cara mengikuti suara panggilan burung yang dituju tersebut.
Sumber

Jupiter Terlihat Sangat Kecil Dibandingkan Planet Raksasa Baru

Sebuah planet raksasa ditemukan lewat pengamatan dengan teleskop Subaru 8 Meter milik Jepang yang berada di Mauna Kea, Hawaii. Planet itu begitu besar sehingga membuat Jupiter, planet terbesar di Tata Surya, tampak kerdil. Ukuran planet itu 13 kali Jupiter.

Planet tersebut mengorbit bintang bernama Kappa Andromedae, sebuah bintang berukuran 2,5 kali Matahari yang berjarak 170 tahun cahaya dari Bumi. Astronom menamai planet berwarma kemerahan itu Kappa Andromedae b atau Kappa And b singkatnya.

Michael McElwain, astronom dari Goddard Space Flight Center NASA, mengungkapkan, ukuran Kappa And b yang besar membuatnya ditempatkan persis dalam batas antara planet raksasa dan bintang gagal yang disebut bintang katai coklat.

"Berdasarkan model konvensional pembentukan planet, Kappa And b gagal membangkitkan energi fusinya yang pada satu titik dikategorikan sebagai bintang katai coklat, bukan planet. Namun, ini belum definitif," kata McElwain

Temuan Kappa And b menantang pemahaman astronom tentang pembentukan planet. Planet raksasa ini terbentuk dengan cara yang sama seperti planet lain dengan ukuran lebih kecil, yakni dari material piringan protoplanet di sekeliling bintang yang baru lahir.

Hal lain yang menarik adalah bintang yang diorbit planet raksasa itu. Astronom mengungkap, usia bintang itu 30 juta tahun, masih relatif muda. Temuan ini menunjukkan bahwa planet raksasa bisa didapati di bintang muda.

Sejauh ini, pengamatan planet berjarak jauh dari Bumi sulit dilakukan sebab gangguan cahaya bintang yang diorbitnya. Planet ini adalah salah satu planet yang berhasil "dipotret" secara langsung dengan pengamatan berbasis cahaya inframerah.

Penasaran dengan letak planet ini? Bintang planet ini bisa dilihat dengan mata telanjang di rasi Pegassus. Di mana bintang itu berada, di situlah planet eksis mengelilinginya. Temuan ini akan dipublikasikan di Astrophysical Journal Letters.
Sumber

Sains

More on this category »

Pemilu 2014

More on this category »
 
Contact Us : Disclaimer | Advertise With Us
Copyright © 2013 Jendela Dunia - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger