Jendela Dunia
Headlines News :

Latest Post

Kiamat 2012, Hanyalah Isu Bencana Dari Antariksa

Written By radde on 16 Desember, 2012 | 10.04

Untuk meyakinkan adanya kiamat 2012, para penggagas isu meramu berakhirnya periode 13 baktun kalender Perhitungan Panjang Maya dengan berbagai fenomena astronomi. Sejumlah peristiwa antariksa yang lumrah terjadi diolah menjadi kejadian luar biasa yang dikatakan bisa memicu kehancuran Bumi.

Pada 21 Desember, hari yang oleh pencetus isu kiamat dianggap hari akhir, Matahari terletak di rasi Sagittarius. Jauh di belakangnya, ada pusat Galaksi Bimasakti yang memiliki lubang hitam bermassa 4 juta kali massa Matahari.

Kesegarisan Bumi, Matahari, dengan pusat Galaksi ini dituding akan mengoyak Matahari dan anggota Tata Surya lain. Gaya pasang surut dari pusat Galaksi dianggap akan makin besar karena Matahari sedang di bidang Galaksi.

Posisi Matahari yang mengarah ke pusat Bimasakti adalah nyata. Ini adalah peristiwa rutin yang terjadi tiap 21 Desember. Kondisi ini tak berubah, meski Matahari terus berputar mengelilingi pusat Galaksi selama 250 juta tahun. Bukan hal istimewa.

”Arah Bumi ke pusat Galaksi tidak menimbulkan masalah apa-apa. Itu hanya orientasi arah,” kata dosen struktur galaksi Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung, M Ikbal Arifyanto

Dalam astronomi, pusat Bimasakti masih merupakan daerah ”abu-abu”, posisi pastinya belum dapat ditentukan. Pusat Bimasakti diyakini berada di daerah Sagittarius A*. Jika diteropong dalam panjang gelombang visual, wilayah ini hanya daerah gelap, tapi memancarkan gelombang radio sangat kuat.

Lubang hitam memang akan menarik benda-benda dalam batasan jarak tertentu. Matahari berjarak sekitar 30.000 tahun cahaya (285.000 triliun kilometer) dari pusat Bimasakti. Kini, Matahari berumur 5 miliar tahun dan tetap ada di posisinya, tak tersedot lubang hitam.

Matahari juga sedang tidak di bidang Galaksi. Bambang Hidayat dalam ”Kosmophobia 2012: Satu Tilikan Astronomi Menyatakan bahwa Apokaliptika Tidak Akan Terjadi pada Tahun 2012” di jurnal Sosiohumanika Volume 3 Nomor 1 Tahun 2010 menyebut, Matahari pada 21 Desember 2012 berada pada jarak 100 tahun cahaya dari bidang Galaksi. Terakhir, ia melewati bidang itu 3 juta tahun lalu.

Matahari sedang bergerak ke utara (atas piringan Galaksi), menuju titik terjauhnya. Ia akan kembali melintasi bidang Galaksi pada 10 juta tahun mendatang. Kalaupun Matahari ada di bidang Galaksi, dampak gaya pasang surut pusat Galaksi terhadap Matahari hanya sebesar tumbukan nyamuk ke manusia.

Tumbukan

Isu lain yang mengiringi kiamat 2012 adalah tertabraknya Bumi oleh Planet X dan Planet Nibiru, dua planet rekaan.

Ian O’Neil dalam 2012: No Planet X di situs universetoday.com, 25 Mei 2008, menyatakan, Planet X adalah istilah untuk menamai benda langit seukuran planet yang diduga ada. Obyek yang sempat dinamai Planet X antara lain Pluto yang ditemukan pada 1930. Pluto diduga ada karena memicu gangguan orbit Neptunus.

Pencarian Planet X kini lebih diarahkan pada benda-benda seukuran Pluto. Ia diperkirakan ada di Sabuk Kuiper, wilayah Tata Surya setelah Neptunus antara 30-50 Satuan Astronomi (jarak Matahari-Bumi). Selain Pluto, obyek yang ditemukan di daerah ini antara lain Orcus, Quaoar, Eris, dan Sedna.

Istilah Nibiru muncul dalam buku The Twelfth Planet karangan Zecharia Sitchin, 1976, yang dianggap sebagai karangan imajinatif berdasar teks kuno bangsa Sumeria (Irak) 6.000 tahun lalu. Nibiru adalah planet yang dikendarai alien (makhluk asing) Annunaki untuk mengunjungi Bumi. Annunaki memodifikasi primata Bumi jadi manusia guna mengurus Bumi. Ia diramalkan kembali ke Bumi pada 2012 dan mencipta teror.

Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) membantah keberadaan dua planet khayali ini. Jika planet itu memang ada dan mendekati Bumi pada 2012, astronom tentu sudah mendeteksi minimal 10 tahun lalu.

”Jika wujud planetnya tak jelas, apa yang harus ditakutkan?” kata peneliti Astronomi dan Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Emanuel Sungging Mumpuni, dalam diskusi Himpunan Astronomi Amatir

Selain dua planet rekaan itu, benda langit lain yang diisukan akan menubruk Bumi adalah asteroid dan komet. Bumi memang rentan tertabrak dua benda ini. Namun, tubrukan besar terakhir tercatat terjadi 65 juta tahun lalu yang diduga menyebabkan dinosaurus punah.

Meskipun ancaman itu nyata, dosen dinamika benda kecil dalam Tata Surya, Astronomi, ITB, Budi Dermawan, mengatakan, manusia siap mengantisipasi. Survei Penjaga Antariksa NASA memantau benda-benda yang berpotensi menumbuk Bumi.

Setidaknya ada tiga asteroid mendekati Bumi, yaitu 4179 Toutatis yang mendekati Bumi pada 12 Desember lalu, 99942 Apophis pada 9 Januari 2013, dan 2012 DA14 pada 15 Februari 2013. Studi orbit asteroid itu menyatakan, tidak ada yang akan menabrak Bumi. ”Mereka hanya melintas dekat Bumi. Ini sudah sering terjadi, ” ujarnya.

Komet lebih jarang mendekati Bumi. Sebagian besar habitat komet ada di awan Oort, daerah terpinggir di Tata Surya yang berbatasan langsung dengan wilayah bintang lain.

Saat Tata Surya berpapasan dengan nebula atau bintang lain, keseimbangan komet bisa terganggu dan terjatuh dalam gravitasi Matahari. Makin mendekati Matahari, penyubliman materi di permukaan komet makin meningkat hingga tampak bercahaya dan berekor.

”Komet biasanya sudah terdeteksi di sekitar Jupiter. Jika ada komet mendekati Bumi, pasti sekarang sudah terdeteksi,” kata Budi. Dari awan Oort ke Jupiter, komet butuh waktu tahunan. Demikian pula dari Jupiter menuju Bumi. Karena itu, isu adanya komet, asteroid, Planet X, maupun Nibiru yang mendekati Bumi dan mengancam keberlangsungan kehidupan dianggap spekulatif.
Sumber

Kiamat 2012 Adalah Gejolak Bumi Dengan Matahari

Tak hanya diramu dengan fenomena antariksa yang spekulatif, isu kiamat 21 Desember 2012 juga dipadu dengan proses alamiah Bumi dan Matahari yang dimaknai berlebihan. Bumi dan Matahari tidaklah mati, tetapi berproses dinamis dan terus berevolusi.

Penggagas isu menyebut, kiamat juga terjadi karena adanya perubahan arah kutub magnet Bumi dan melemahnya medan magnet Bumi. Kutub utara magnet Bumi akan berbalik 180 derajat menjadi kutub selatan dan sebaliknya.

Perubahan arah kutub magnet diyakini akan melemahkan medan magnet Bumi. Akibatnya, kemampuan Bumi menahan radiasi sinar kosmik, termasuk radiasi Matahari, hilang.

Ini dikatakan bisa membahayakan satelit, mengganggu orientasi gerak binatang, hingga berbagai kekacauan arah pesawat karena satelit terganggu.

Guru Besar Kemagnetan Batuan Institut Teknologi Bandung Satria Bijaksana mengatakan, kutub magnet Bumi memang bisa berubah arah 180 derajat. Kutub magnet juga bisa bergeser seperti yang kini terjadi atau melemah. ”Tapi, perubahan itu tidak terjadi tiba-tiba,” ujarnya.

Kutub utara magnet Bumi berada 11,5 derajat dari kutub utara Bumi dan ada di wilayah Kanada. Ia bergerak ke utara-barat laut dengan besaran setengah derajat dalam lima tahun. Pada abad mendatang, kutub utara magnet Bumi akan ada di Siberia, Rusia.

Perubahan arah dan pergeseran kutub magnet Bumi disebabkan oleh sirkulasi material dalam inti bagian luar Bumi. Inti bagian luar ini berupa fluida (cairan) yang terdiri atas nikel dan besi. Gerak fluida tersebut dipengaruhi oleh rotasi Bumi.

Mantan Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia Lambok Hutasoit mengatakan, rekaman batuan selama 76 juta tahun menunjukkan telah terjadi puluhan kali perubahan arah kutub magnet berkebalikan. Namun, tak ada yang aneh dengan batuan Bumi. Jeda waktu antar- perubahan arah kutub 25.000 tahun hingga jutaan tahun.

Satria menambahkan, perubahan kutub magnet berkebalikan terakhir terjadi 780.000 tahun lalu. Proses transisinya butuh sekitar 20.000 tahun, waktu yang cukup bagi makhluk hidup Bumi untuk beradaptasi.

Meskipun demikian, perubahan dan pergeseran kutub tidak menimbulkan dampak apa pun bagi manusia, kecuali bagi mereka yang menggunakan kompas sebagai penunjuk arah dan ada di sekitar kutub.

Badai Matahari

Jelang kiamat juga diwarnai isu datangnya badai Matahari. Badai itu ditandai oleh pelepasan partikel Matahari yang bermuatan secara berlebih akibat ledakan Matahari dan lontaran material korona (atmosfer Matahari). Selain membawa energi, partikel membawa medan magnet yang menimbulkan radiasi elektromagnetik jumlah besar.

Kepala Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Clara Yono Yatini mengatakan, aktivitas Matahari meningkat sejak 2010. Ini bagian dari siklus 11 tahunan Matahari. Selama 2012, aktivitasnya terus meningkat dan diperkirakan mencapai puncaknya Mei-Juni 2013.

Selama menuju puncak, badai Matahari bisa terjadi kapan saja. Waktunya tidak bisa dipastikan, hanya diperkirakan. Kapan terjadinya badai sudah bisa di- prediksi beberapa hari sebelumnya oleh Lapan dan lembaga penelitian astronomi lain.

Namun, badai ini belum tentu berdampak pada Bumi, tergantung arah ledakan dan kondisi magnetosfer Bumi, apakah muatan magnetnya sama atau berlawanan dengan muatan magnet partikel Matahari.

Satria mengatakan, magnetosfer adalah medan magnet, bukan lapisan partikel. Ia tidak bisa disamakan dengan lubang ozon. Karena itu, tidak ada istilah magnetosfer retak atau bocor seperti yang diisukan.

Menurut Clara, badai Matahari adalah peristiwa rutin. Pengamatan siklus Matahari dilakukan sejak 1745. Manusia punya sistem untuk mengantisipasi, termasuk peringatan dini.

Badai ini hanya memberi dampak pada satelit, sistem komunikasi atau kelistrikan di negara-negara dekat kutub. Belum ada catatan manusia jadi korban langsung badai Matahari.

Letusan gunung api

Kiamat juga dikabarkan terjadi akibat letusan gunung api besar (supervolcano), seperti letusan Gunung Toba di Sumatera atau letusan yang membentuk Kaldera Yellowstone di Amerika Serikat.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono berkata, letusan gunung api selalu didahului tanda-tanda peningkatan aktivitas magma, seperti gempa, pelepasan gas, atau penggelembungan gunung. Untuk letusan superdahsyat, tanda-tanda ini harus ada minimal setahun sebelumnya. Letusan tidak bisa terjadi tiba-tiba.

”Semua gunung api aktif di Indonesia terpantau,” ujarnya. Demikian pula gunung api aktif di berbagai negara. Waktu letusan, besaran letusan, dan kapan letusan berakhir tak dapat diprediksi. Karena itu, ramalan letusan besar gunung api 21 Desember dinilai mengada-ada.

Peristiwa yang terjadi di alam tidak terjadi seketika, ada logika yang menyertainya. Semua membutuhkan proses dengan jangka waktu panjang, hingga jutaan tahun. Bukan sulap, bukan sihir.
Sumber

Dua Wanana Antariksa NASA Yang akan Menabrak Bulan

Dua wahana antariksa milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat mengatakan engga yaNASA akan menabrak Bulan secara terkendali pada Selasa (18/12/2012) pukul 05.58 WIB. Dua wahana kembar bernama Ebb dan Flow itu bakal bergerak dengan kecepatan 6.050 km/jam.

Dua wahana itu adalah bagian dari misi GRAIL (Gravity Recovery and Interior Laboratory) yang diluncurkan pada September 2011. Ebb dan Flow sampai orbit Bulan tiga bulan kemudian dan memulai memetakan medan gravitasinya secara detail.

"GRAIL telah menghasilkan resolusi terbaik, kualitas tertinggi medan gravitasi dari planet di Tata Surya, termasuk Bumi," ungkap pimpinan misi GRAIL, Maria Zuber dari Massachusetts Institute of Technology (MIT),

Misi GRAIL mengungkap permukaan Bulan secara lebih detail. Berdasarkan peta itu, Zuber mengungkapkan bahwa permukaan Bulan kaya bekas tumbukan. Hal ini menjadi petunjuk bahwa planet seperti Bumi, Mars, Merkurius dan Venus mengalami tumbukan benda antariksa yang lebih "kejam" dari perkiraan.

Misi utama GRAIL berlangsung dari Maret sampai Mei, ketika wahana mengorbit Bulan dari ketinggian 55 km. Selanjutnya, wahana semakin menurun hingga mencapai ketinggian hanya 23 km. Misi Grail tak akan diperpanjang karena bahan bakarnya telah habis.

Selasa pagi depan, Ebb dan Flow akan menumbuk pinggiran kawah Bulan dengan sudut 1 derajat dari garis horizontal. Saat menabrak, dua wahana memungkinkan peneliti melihat karakteristik mekanik dari kawah Bulan. Peristiwa tabrakan yang disengaja ini takkan bisa dilihat dari Bumi.

NASA telah menargetkan tempat, yang dua wahana itu akan menabrak. Lokasi "bunuh diri" dua wahana itu berbeda dengan lokasi pendaratan Apollo. Dengan demikian, jejak pendaratan Apollo sekitar 40 tahun lampau yang takkan rusak oleh wahana ini.
Sumber

Ahli Reptil Dunia Berbagi Kisah Pengalamannya Di Jakarta

Mal Gandaria City, Jakarta Selatan, diramaikan oleh ular piton dan jenis reptil lain seperti iguana dan biawak. Bukan lantaran hewan liar itu lepas, melainkan seorang pakar reptil dunia sedang berkunjung ke Jakarta.

Pakar reptil dunia itu adalah Brady Barr. Ia didatangkan ke Indonesia atas kerja sama Indovision dan Fox International, untuk mempromosikan acara di National Geographic Channel yang dipandunya, "Dangerous Encounters".

Brady Barr berbagi pengalaman ekstrem setelah selama 20 tahun berhubungan dengan satwa liar, terutama reptil. Ia mengatakan, "Saya adalah satu-satunya herpetolog (pakar reptil) yang telah mempelajari 23 spesies buaya," katanya.

Barr menguraikan bahwa dirinya telah menjelajahi banyak ekosistem, mulai padang rumput kering tempat beragam reptil berada, gurun tempat banyak fosil dinosaurus ditemukan, hingga lautan tempat hiu dan gurita hidup.

Dalam acara hari ini, Barr menunjukkan beberapa foto saat ia berkalung piton, bagian atas mulut buaya terbesar, berada di antara kawanan ular berbisa, hingga berfoto di bawah laut, tepat di sebelah gurita raksasa.

"Saya tidak pernah menyangka dalam hidup saya, saya bisa bertemu salamander raksasa, gajah, beruang kutub, badak, ular, dan buaya. Ini karena kesempatan yang saya miliki karena saya bergabung dengan National Geographic," katanya.

Barr mengungkapkan kekagumannya akan alam Indonesia. Menurutnya, Indonesia adalah negara yang teberkati karena memiliki begitu banyak pulau beserta keanekaragaman hayatinya. Karena ekspedisi di Indonesia pula, ia mendapatkan perhatian media internasional.

"Saya pergi di sebuah gua di Flores (Istana Ular). Itu gua yang di mana-mana adalah ular. Di atas, di depan, dan belakang saya. Di sana pula saya digigit piton. Begitu banyak perhatian media saat itu," paparnya.

Dalam berita MSNBC, 15 Oktober 2007, Barr mengungkapkan, "Gua itu merupakan sebuah liang atau ruang horor, mungkin merupakan tempat terburuk sejak 10 tahun saya bekerja bersama National Geographic."

Saat digigit ular tersebut, Barr harus berjuang naik ke mulut gua. Gigitan piton yang sebenarnya tak berbisa sendiri menjadi berbahaya karena di gua, Barr berinteraksi dengan kotoran kelelawar. Baru 27 jam setelah kejadian, ia bisa dibawa di rumah sakit di Singapura.

Selama bertahun-tahun bergelut dengan binatang buas, Barr mengungkapkan bahwa rasa takut masih tetap ada. Ia menambahkan, rasa takut memang harus selalu ada. "Dari ketakutan, kita bisa berupaya untuk tetap waspada," cetusnya.

Ia juga mengungkapkan betapa berbahaya bekerja dengan satwa liar sekaligus kamera. Ia menunjukkan salah satu rekaman ketika ular yang sedang dipegangnya justru menyerang saat ia memberi penjelasan ke arah kamera.

"Bekerja menjadi pemandu acara seperti 'Dangerous Encounters' lebih berbahaya. Kita harus berhadapan dengan kamera sekaligus dengan satwa liar. Saat mata kita menghadap kamera, kita tidak tahu yang akan terjadi selama satu-dua detik ke depan," terangnya.

Barr lahir pada tahun 1963. Meraih gelar doktor dari University of Miami, ia mulai bekerja dengan National Geographic sejak tahun 1997. Selain di Indonesia, ia telah melakukan ekspedisi di Kamboja, Guyana-Perancis, Brazilia, dan Afrika.

Ia mengatakan, ambisi terbesarnya kini adalah pendidikan sains untuk anak-anak. "Saya ingin anak-anak mengenal satwa liar. Anda yang di Indonesia beruntung bisa mengenal satwa liar lebih dekat."
Sumber

Ane ! Lele Memakan Burung Merpati

Penemuan yang dipublikasikan di PLOS ONE, mengungkap perilaku satwa yang tak terduga. Spesies lele Silurus glanis ternyata mampu memakan burung merpati.

Silurus glanis adalah lele terbesar ketiga di Eropa. Dalam publikasi, dinyatakan bahwa lele itu berasal dari wilayah Eropa di dekat sungai Rhine. Kini, jenis ikan predator itu diintroduksi ke beberapa sungai di Eropa, termasuk Sungai Tarn di Perancis, tempat penelitian ini dilakukan.

Julien Cucherousset dari Universitas Paul Sabatier yang menjadi pemimpin peneliti menguraikan, dalam penelitian, lele terekam berenang ke tepian, sesaat berada di daratan, menyambar burung merpati yang sedang berkumpul di tepi sungai, lalu membawanya kembali ke perairan.

Menurut Cucherousset, perilaku hewan air yang memakan hewan darat memang bukan hal baru. Namun, perilaku lele yang mampu memakan burung belum pernah ditemukan sebelumnya. Ia mengatakan bahwa perilaku ini adalah salah satu bentuk adaptasi terhadap kompetisi.

"44 perilaku mendarat parsial dan kebanyakan keseluruhan diobservasi dan difilmkan, di mana 28 persen ikan yang mendarat sukses memangsa. Burung darat ditangkap, lalu ikan kembali ke sungai dan menyantapnya," papar Cucherousset dan rekannya dalam publikasi.

"Sekitar 40 persen dari yang diobservasi, sebagian besar bagian tubuh lele ini berada di luar air. Perilaku ini berlangsung sangat cepat, mulai kurang dari sedetik hingga maksimal 4 detik," lanjutnya.

Observasi perilaku juga menunjukkan keunikan. Lele cenderung memilih memakan burung yang aktif. Walaupun seekor burung berlokasi sangat dekat dengan jangkauan, lele takkan menyerang jika burung itu diam. Diduga, lele memanfaatkan gelombang air untuk mendeteksi mangsa.

Spesies lele yang diobservasi mulai diintroduksi di Sungai Tarn pada tahun 1983. Peneliti menduga, perilaku tersebut muncul karena kompetisi dengan satwa lain di sungai dalam mendapatkan makanan. Hal ini belum diteliti lebih lanjut.

"Penemuan menunjukkan bahwa perilaku predasi baru ini merepresentasikan kemampuan ekstrem spesies yang diintroduksi untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, yang bisa menimbulkan dampak tak terduga untuk dinamika sumber pangan dan fungsi lingkungan," papar Cucherousset.


Sumber

Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Bencana hidrometeorologi, yaitu banjir, kekeringan, tanah longsor, puting beliung, hingga gelombang pasang, menjadi ancaman terbesar negara di Asia, termasuk Indonesia. Bencana ini dipicu oleh kerusakan lingkungan dan pemanasan global.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho Mengatakan, sejak Januari hingga 13 Desember 2012, tercatat 729 kejadian bencana di Indonesia. Sebanyak 85 persen adalah bencana hidrometeorologi berupa banjir, kekeringan, tanah longsor, puting beliung, kebakaran lahan dan hutan, serta gelombang pasang.

Kejadian ini lebih besar daripada rata-rata tahun 2002- 2011, yakni 77 persen. Puting beliung merupakan bencana paling sering terjadi, yaitu 36 persen, mengalahkan banjir dan longsor yang sebelumnya mendominasi.

Menurut Sutopo, meningkatnya bencana hidrometeorologi disebabkan oleh kerusakan lingkungan akibat ulah manusia (antropogenik) dan faktor perubahan iklim. Khusus untuk banjir di Jawa, penyebab dominannya ialah antropogenik. ”Faktor kerusakan daerah aliran sungai lebih dominan,” katanya. ”Memang ada pengaruh perubahan iklim, tetapi tidak begitu besar.”

Akan tetapi, fenomena peningkatan frekuensi dan daerah terdampak puting beliung menunjukkan pengaruh perubahan iklim. Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian mengatakan, naiknya suhu Bumi menyebabkan frekuensi kejadian puting beliung, sekalipun pembuktian langsung secara statistik sulit dilakukan.

Sutopo menambahkan, bencana hidrometeorologi menjadi ancaman serius di masa mendatang. Secara bulanan, dari data bencana 2002-2012 menunjukkan, puncak bencana terjadi pada Januari. Artinya, pada puncak musim hujan, yaitu di Januari, ancaman bencana hidrometeorologi mencapai puncaknya. Ini perlu diantisipasi masyarakat.

”Saat ini puting beliung terjadi bukan hanya pada masa transisi atau peralihan musim, melainkan berlangsung selama musim hujan hingga akhir musim hujan, yakni dari sekitar Oktober hingga April,” katanya.

Fenomena global

Dominasi bencana hidrometeorologi di Indonesia ini sejalan dengan fenomena Asia dan global. Secara global, 76 persen bencana di dunia sepanjang tahun 1900-2011 adalah bencana hidrometeorologi.

Pekan ini, Badan PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) merilis hasil penelitian yang menyebutkan banjir merupakan bencana paling kerap terjadi di Asia sepanjang 2012, yaitu mencapai 44 persen. Bencana ini menyebabkan dampak korban jiwa terbanyak dan kerugian ekonomi terbesar. Sebanyak 54 persen korban tewas di Asia diakibatkan banjir dan 56 persen dari total kerugian ekonomi di Asia disebabkan banjir.

Penelitian itu dilakukan UNISDR bekerja sama dengan Louvain University Centre for Research on the Epidemiology of Disasters (CRED). Disebutkan, Pakistan paling menderita akibat banjir. Sebanyak 480 warga Pakistan tewas sepanjang Agustus hingga Oktober 2012. Adapun banjir yang melanda China pada Juni-Juli berdampak terhadap 17 juta orang dan menyebabkan kerugian ekonomi terbesar, yaitu 4,8 miliar dollar AS.

Selain banjir, badai juga menjadi ancaman serius di Asia. Pekan lalu di Filipina terjadi topan Bopha yang menewaskan 500 orang.

Di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Timur terjadi 83 bencana yang menyebabkan total tewas 3.103 jiwa, berdampak terhadap 64,5 juta jiwa, dan total kerugian ekonomi hingga 15,1 miliar dollar AS. Bencana di tiga kawasan ini menyumbang 57 persen total kematian akibat bencana, 74 persen orang terdampak bencana, dan 34 persen total jumlah kerugian ekonomi selama tahun 2012.

Di dunia, jumlah bencana mencapai 231 kali, menyebabkan 5.469 korban tewas, berdampak terhadap 87 juta jiwa, dan menyebabkan kerugian hingga 44,6 miliar dollar AS. (AIK)
Sumber

Kemampuan Menulis Banyak Peneliti Masih Lemah

Kemampuan menulis banyak peneliti masih lemah. Hal ini merupakan salah satu sebab kurangnya publikasi peneliti Indonesia di jurnal internasional. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menerbitkan Peraturan Kepala LIPI No 04/E/2012 tentang Pedoman Karya Tulis Ilmiah untuk mengatasi masalah tersebut.

"Kelemahannya selama ini adalah analisis atau pembahasannya kurang. Padahal penelitian menghasilkan banyak data Enny Sudarmonowati, Kepala Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan Peneliti LIPI dalam Workshop "Increase Acceptance in Refereed International Scientific Journal

"Selain itu banyak peneliti juga lemah dalam menyimpulkan. Tidak disebutkan di tujuan dan rumusan permasalahan tetapi muncul pada bagian kesimpulan," tambah Enny yang menginisiasi komunitas lingkungan Jakarta Green Monster dan pakar dalam bidang transgenik tumbuhan.

Menurut Enny, banyak peneliti lemah dalam menulis karena belum terbiasa, kurang latihan dan seringkali merasa tidak berbakat menulis. Hal lain yang menjadi sebab kelemahan dalam analisis dan kesimpulan adalah kurangnya membaca sehingga kurang referensi.

"Referensi di jurnal internasional banyak sekali. Banyak referensi karena dibahas. Di Indonesia, ada paper yang hanya punya 2 hingga 4 daftar pustaka bisa terbit. Di sini, kualitas jurnal juga harus diperbaiki. Kalau karya tidak bagus, ya jangan diterima," papar Enny

Enny menuturkan, untuk memperbaiki kuantitas dan kualitas publikasi ilmiah oleh peneliti Indonesia, kemampuan peneliti menulis juga harus ditingkatkan. Langkah ini telah diambil LIPI. Peneliti diminta mengikuti diklat 5 hari dan ditargetkan mampu menghasilkan satu karya tulis ilmiah.

Meski demikian, upaya peningkatan kualitas karya tulis juga perlu diimbangi dengan penambahan anggaran penelitian. Langkah lain bisa dilakukan dengan meng-upgrade jurnal nasional berpotensi menjadi jurnal internasional yang diterbitkan oleh Indonesia.

Sementara itu, Fred T Davis dari Texas A&M University yang menjadi pembicara dalam workshop hari ini mengatakan bahwa peneliti harus terbuka dengan kritik terhadap karya ilmiahnya. "Tidak semua ide kita miliki. Ide kita juga bukan berarti yang terbaik," katanya.

Ia juga mengatakan, untuk diterima di jurnal internasional, peneliti juga perlu memperhatikan judul karya tulis. Semakin menarik judul, semakin menarik minat para reviewer. "Sains tidak selalu harus menjadi membosankan tetapi bisa menjadi menarik," cetusnya.
Sumber

Sains

More on this category »

Pemilu 2014

More on this category »
 
Contact Us : Disclaimer | Advertise With Us
Copyright © 2013 Jendela Dunia - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger