Jendela Dunia
Headlines News :

Latest Post

Tebing tinggi lebih dari 5000 meter menciptakan aliran 'air mata' yang tak terhitung

Written By radde on 06 Juli, 2013 | 09.07

Tebing tinggi lebih dari 5000 meter menciptakan aliran 'air mata' yang tak terhitung.
Gunung Waialeale (atau Wai'ale'ale) adalah kawah gunung berapi dan titik tertinggi kedua di pulau Kauai di Kepulauan Hawaii. Dalam bahasa Hawaii, Wai'ale'ale berarti "air beriak" atau "air meluap." Di tempat ini curah hujan cukup tinggi rata-rata 11500 mm per tahun, dan pernah mencapai rekor 17300 mm di tahun 1982.

Dengan tingginya tebing sehingga membentuk aliran air yang tak terhitung. Di salah satu tempat disebut "Wall of Tears" atau tembok air mata, karena ada begitu banyak air terjun seolah-olah tampak seperti aliran air mata.


Ada beberapa alasan mengapa Wai'ale'ale memiliki curah hujan yang tinggi. Pertama, Kauai sebagai tempat di sisi utara Kepulauan Hawaii, memiliki lebih banyak eksposur terhadap sistem frontal yang membawa hujan di musim dingin.

Kedua, Wai'ale'ale memiliki bentuk bulat dan kerucut, sehingga bagian puncak menerima paparan angin cukup banyak dan menghasilkan alur ke bawah. Ketiga, puncaknya terletak tepat di bawah lapisan inversi angin 1.829 m (awan hujan), sehingga awan pembawa air tidak dapat naik lebih tinggi lagi dan menyebabkan curah hujan yang kuat.




Bila ingin melihat pemandangan menakjubkan ini, memang tidak mudah mencapai Gunung Waialeale dengan berjalan kaki. Satu-satunya cara adalah dengan helikopter, Anda pun harus mengamati kondisi cuaca. Bila tidak beruntung kawasan ini sering terselimuti awan. Ya, cukup mahal biaya melihat tembok yang penuh air mata ini.

Pelukan Penuh Kasih Mampu Membuat Bayi Ini Bertahan Hidup

Tahukah Anda betapa berartinya sebuah pelukan? Aktifitas fisik sederhana yang punya makna dalam, bisa menyalurkan energi penuh cinta dan mengembalikan emosi positif. Bahkan, keajaiban bisa saja terjadi seperti pengalaman Kate Hogg dari Austalia ini.

Pada tahun 2010 Kate Hogg masuk rumah sakit bersalin dan melahirkan anak kembar secara prematur, mengingat usia kandungan baru 27 minggu. Bayi perempuan, Emily berhasil selamat namun tidak bagi bayi laki-laki, Jamie. Tim dokter berupaya keras menyelamatkan Jamie, apa daya nyawanya tak tertolong. Bayi lelaki ini pun diserahkan kepada Kate untuk memberi ucapan perpisahan.
Kate menangis begitu sedih, ia mengambil Jamie dan membekapnya dengan erat di dadanya. Sambil memeluk, Kate berbicara padanya. Ini haruslah jadi perpisahan yang istimewa, demikian kira-kira pikiran Kate.

Setelah beberapa menit, tiba-tiba Jamie bergerak. Betapa bahagianya sang ibu, ia langsung mengambil ASI dengan jarinya dan memberi minum pada sang bayi. Mulut Jamie terbuka menyambut jari Kate dan menjilatinya. 


Seorang bidan yang sebelumnya dikirim tim dokter untuk menghibur Kate karena kehilangan bayi baru saja datang. Sang bidan pun begitu shock melihat keajaiban ini.

Peristiwa ini mengajarkan kita betapa hebatnya cinta, kasih sayang. Ketika berbagai peralatan teknologi kedokteran mutakhir masih harus menyerah, sentuhan seorang ibu justru jadi satu-satunya jawaban. Masihkan kita mendustai cinta?

Cara Penyandang Tunanetra Untuk Menikmati Internet

Written By radde on 05 Juli, 2013 | 21.54

Sebagai penyedia informasi, internet sudah dirasakan banyak orang termasuk juga kaum tuna netra. Meski masih banyak kendala, kini mereka pun sudah bisa 'melihat' dunia.

Bambang Basuki, pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Mita Netra, sebuah yayasan nirlaba yang mengedukasi kaum tuna netra menceritakan cara menjelajah internet bagi penyandang tuna netra. Seperti dimuat oleh viva, kisahnya sungguh menarik dan membantu kita mengerti bahwa siapa pun berhak menikmati pengetahuan dan kemajuan teknologi.

"Yang dulu tidak bisa dilakukan, sekarang jadi bisa," ucap Bambang
tentang manfaat internet. "Orang tuna netra kan nggak bisa baca koran,
surat. Nah, dengan e-mail jadi bisa baca, dan lebih privat."

Bagaimana cara mereka memanfaatkan internet? Ada dua alat bantu agar bisa mengakses komputer yakni:

1. Screen reader

Screen reader atau pembaca layar, alat ini berfungsi membacakan semua objek yang ada di layar. Namun, alat ini tergolong mahal, harganya Rp12 juta-an.

"Tapi, kami sekarang ada software pembaca layar gratis. Namanya NVDA. Jadi, kami manfaatkan itu," tuturnya.

evengrounds.com

2. Braile display
Cara ini menurutnya tidak begitu fleksibel, kecuali bagi tuna netra yang ingin mendalami pengetahuan yang spesifik, misalnya matematika.

Dalam menjelajahi komputer, tuna netra tidak menggunakan mouse, tapi keyboard, sehingga untuk tingkat awal mereka harus kursus khusus.

"Soal akses, kami lelah kalau harus bertemu objek grafik. Apalagi, saat baca portal berita, di mana kami harus mengikuti secara detail arahan screen reader, tidak bisa melompat," kata Bambang.

Padahal, menurut ketentuan Standard Web Accesibility, portal harus bisa lebih ramah dengan tuna netra.

Berkaitan dengan hal itu, pihaknya saat ini sedang memperjuangkan ketersediaan standar Web tersebut.

Kisah Mitra Netra

Meski menyandang cacat, Bambang boleh dibilang tidak gaptek. Pada tahun 1992, saat Internet belum populer, ia sudah tergerak mengembangkan pendidikan Internet tuna netra.

"Saat itu, yang ramai digunakan masih Lotus. Ya, susah sekali, apalagi masih dianggap langka ketika itu," kisah Bambang.

Tapi, dengan gigih dan dukungan perkembangan teknologi, upaya pendidikan Internet tuna netra sedikit demi sedikit semakin terbantu.

speckyboy.com

"Sebenarnya, produk Apple mendukung tuna netra, tapi harga perangkatnya cukup mahal. Sebab itu, kami gunakan perangkat lain, apa saja, ya termasuk Windows," imbuhnya.

Berkat kegigihanya, minat belajar komputer dan Internet kian tinggi di kalangan tuna netra. Bambang mengaku, Yayasan Mitra Netra tiap tahun mendidik tuna netra dari usia pendidikan dasar sampai perguruan tinggi.
"Kalau di Jakarta, tiap tahun kami melayani 80-100 tuna netra," katanya.

Kini, orang tuna netra hampir bisa melakukan semua aktivitas seperti orang normal, tak terkecuali presentasi menggunakan Powerpoint. Bahkan, beberapa tuna netra didikan lembaga ini ada yang bisa menjalankan bisnis online.

"Sangat membantu. Ada yang bisnis penyedia peralatan tuna netra dengan pemesan dari pasar internasional," ungkapnya. Beberapa tuna netra bahkan telah mampu membuat situs khusus untuk tuna netra.

220 Juta Lagi , Eropa Dan Amerika Akan Tabrakan

Written By radde on 30 Juni, 2013 | 08.10


Aktifnya lempeng tektonik pasif di Samudera Atlantik dapat memicu tabrakan antara benua Eropa dan Amerika. Demikian diungkap dalam studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Geology baru-baru ini.

Dalam studi tersebut, ilmuwan dari Monash Uniersity di Australia menemukan bukti langsung adanya zona subduksi yang sedang terbentuk di lepas pantai Portugal. Zona subduksi itu mulai aktif dan akan "menutup" Samudera Atlantik. Eropa dan Amerika diprediksi akan bertabrakan 220 juta tahun dari sekarang.

"Apa yang kami deteksi adalah margin aktif yang masih sangat awal, seperti embrio zona subduksi," kata Joao Duarte dari School of Geoscience, Monash University,

"Aktivitas gempa yang signifikan, termasuk gempa tahun 1755 yang menghancurkan Lisbon, mengindikasikan bahwa mungkin ada pergerakan tektonik yang konvergen di area itu. Untuk pertama kali, kami tak cuma menyuguhkan bukti bahwa memang itulah yang terjadi, tetapi juga mekanisme yang konsisten," papar Duarte.

Zona subduksi adalah wilayah di mana satu lempeng tektonik bergerak di bawah lempeng tektonik lain. Zona subduksi yang ditemukan Duarte dan rekannya terbentuk di wilayah Iberian Peninsula, barat daya Eropa.

Untuk menemukan zona subduksi tersebut, ilmuwan melakukan pemetaan dasar laut dan menemukan bahwa margin lempeng di barat daya Iberia yang semula diduga inaktif ternyata mulai patah, menunjukkan adanya aktivitas tektonik. Aktivitas ini, menurut ilmuwan, bisa menjadi sinyal permulaan fenomena Siklus Wilson.

Dalam Siklus Wilson, gerakan lempeng memisahkan benua besar, misalnya Pangaea pada masa lalu, dan laut terbuka. Benua lalu menjadi stabil dan membentuk zona subduksi yang ada di dekat lautan dan menarik massa daratan menjadi satu lagi.

Proses pemisahan dan penyatuan benua besar ini telah berlangsung setidaknya tiga kali selama lebih dari 4 miliar tahun. Zona Subduksi Iberia akan membawa daratan ke arah Eropa. Ilmuwan menduga, butuh waktu 220 juta tahun.

Ilmuwan memprediksi, butuh waktu 20 juta tahun bagi zona subduksi yang pasif menjadi aktif lagi. Menurut Duarte, dengan mempelajari pembentukan zona subduksi ini, ilmuwan bisa memahami bagaimana zona subduksi menjadi aktif pada saat ini dan masa lampau serta mengetahui bagaimana lautan tertutup.
Sumber

Budaya Buang Sampah Ke Sungai Adalah Warisan Zaman VOC

Sampah di pinggiran pantai Pulau Pari menjadi ancaman bagi ekosistem dan kelestarian laut. Sampah juga mengganggu budidaya rumput laut karena dapat menurunkan kualitasnya.
Saya mengikuti Sunaryo yang menaiki tangga baja melingkar menuju ruangan pengendali Pintu Outlet di Cipinang Besar Selatan. Setelah pintu terbuka, tampak ruangan memanjang bercat dan berlantai putih yang berisi panel-panel untuk mengoperasikan pintu air.

Dia sudah bertugas sebagai penjaga pintu air ini sejak Kanal Banjir Timur (KBT) resmi digunakan pada 2011. Dari deretan jendela di sepanjang ruangan yang mirip lorong itu Sunaryo bisa memantau bentang lingkungan hulu kanal.

Mulut saluran aliran keluar yang menuju Sungai Cipinang itu mulai mendangkal dan penuh sampah. Dari anjungan pintu air itu kami bisa menyaksikan aneka bungkus plastik mi instan, plastik pembungkus belanja, hingga bak mandi plastik yang kandas tengkurap.

“Di Jakarta menghilangkan sampah itu sangat sulit,” kata Sunaryo. “Kesadaran orang-orang di sini sangat susah.”

“Orang membuang sampah ke kali itu paling enak: Begitu dilempar sudah hilang,” ujar Sunaryo dengan kesal. “Sedangkan mengangkatnya lebih susah.”

Imbauan untuk tidak membuang sampah di sungai sekadar gembar-gembor. Tetap saja sampah menumpuk di pintu airnya. Kalau kanal tidak dibersihkan selama sebulan, alat ekskavator pun perlu turun mengangkut. “Kalau tenaga orang saja kewalahan.”

Terdapat lima sungai yang aliran dan sampah yang menyertainya ditampung oleh KBT. Dalam perjalanannya menuju muara, sampah-sampah itu tersangkut di pintu-pintu outlet dan pintu bendung gerak.

Di kesempatan berbeda, saya bertanya soal sampah kepada Mona Lohanda, seorang peneliti sejarah Jakarta dan arsiparis di Arsip Nasional Republik Indonesia. Mona mengisahkan sebuah plakat bertahun 1630 yang berisi aturan yang dikenal sebagai negenuursbloemen—kalau diterjemahkan bebas artinya bunga-bunga jam sembilan.

Aturan yang dibuat Dewan Hindia Belanda —di dalamnya termasuk Gubernur Jenderal VOC— itu mengizinkan warga Kota Batavia untuk membuang sampah ke kanal kota setelah pukul 21.00. “Kata 'negenuurbloemen' itu pemanisan dari aturan membuang kotoran manusia dari rumah tangga di dalam tembok kota,” ungkapnya.

Di dalam buku Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia, Mona pernah menulis, “Sampah rumah tangga pun ikut dibuang ke kali, karena aturan membuat dan menempatkan bak sampah di muka rumah baru dikeluarkan pada pertengahan abad ke-19.”

Menurut Mona, aturan tersebut terus berlaku lantaran kakus baru ditemukan di Eropa pada abad ke-19 pula. Tampaknya aturan zaman VOC itu berlanjut ratusan tahun, bahkan hingga hari ini.

Kini, Sunaryo boleh sedikit berlega. Kampung di sekitar pintu airnya sudah mengusahakan untuk menunjuk petugas pengumpulan dan pengangkutan sampah di setiap rumah. Namun, tiba-tiba terlintas di benaknya tentang teman-temannya para petugas kebersihan KBT. “Tetapi, kalau kanal bersih, lalu yang biasa bersihin kanal kerjanya apa?” (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia)
Sumber

Foto Bumi Saat Di Potret Dari Saturnus

Pale Blue Dot, citra Bumi yang dipotret dari Uranus pada tahun 1990 oleh Voyager 
Wahana antariksa Cassini yang kini menjalankan misi di Saturnus akan memotret Bumi dari jarak jauh. Dalam upaya kembali mencitrakan Saturnus dan sistemnya, wahana itu akan mengikutsertakan Bumi di dalamnya.

Carolyn Porco, pimpinan tim kamera Cassini, berharap bahwa potret yang dihasilkan nanti akan bagus dan mengingatkan kembali citra "Pale Blue Dot", citra Bumi yang diambil wahana Voyager 1 pada tahun 1990 dari Uranus.

Dengan memberitahukan upaya pemotretan Bumi dari Saturnus ini, Porco berharap manusia di Bumi akan menyadari bahwa mereka sedang difoto dari jarak yang sangat jauh. Mereka bisa melambaikan tangan saat pemotretan.

"Orang bisa merayakannya dan bergabung. Ini akan menjadi momen pemotretan antarplanet. Orang bisa menikmati fakta bahwa kita memiliki robot di luar sana, berkilometer jauhnya, memotret kita. Keren, kan?" kata Porco seperti

Cassini telah memotret Bumi sebelumnya. Namun, set up-nya tidak pernah ideal. Kali ini, Porco dan timnya akan mencari kesempatan di mana Cassini bisa memotret Bumi dengan sudut pandang dan filter yang tepat sehingga bisa menunjukkan Bumi dengan warna alaminya.

Memotret Bumi dan planet dalam Tata Surya dari Saturnus punya kesulitan, hanya bisa dilakukan saat Matahari tertutup oleh Saturnus. Bila sembarangan, perangkat pada wahana itu akan rusak sensitifitasnya.

Kondisi yang tepat untuk memotret Bumi dari Saturnus akan terjadi pada 19 Juli 2013 mendatang. Bumi akan berjarak hampir 1 miliar mil dari Saturnus. Kesempatan ini, menurut ilmuwan, sangat langka.

Berdasarkan waktu Indonesia, citra Bumi yang dipotret dari Saturnus nanti akan dipotret dan didapatkan pada 20 Juli 2013 antara pukul 4.27 - 4.42 WIB, lebih kurang waktu subuh atau menjelang fajar. Ilmuwan memprediksi, citra Bumi akan sangat kecil, hanya satu piksel.

Cassini sebelumnya pernah berhasil memotret Bumi dari Saturnus pada tahun 2006. Saturnus tampak sebagai bola dengan cincin di sekitarnya. Bumi sendiri terlihat sebagai titik yang sangat kecil di bagian atas gambar.

Masih banyak yang Cassini perlu pelajari tentang Saturnus. Namun, setelah sembilan tahun beroperasi, misi Cassini harus diakhiri tahun 2017. Cassini akan "bunuh diri" di atmosfer Saturnus. Akhir misi Cassini mungkin akan dipercepat bila dana semakin terbatas.
Sumber

Jumlah Populasi Orang Utan Berada Di Tangan Manusia

Kelangsungan hidup orangutan ditentukan oleh manusia. Kajian selama 10 tahun menunjukkan bahwa orangutan punya kemampuan adaptasi yang hebat. Namun, bila habitatnya dirusak oleh manusia, maka orangutan takkan mampu bertahan.

Kajian dilakukan oleh sejumlah peneliti Indonesia, termasuk mahasiswa dan peneliti dari Universitas Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Borneo Orangutan Survival Foundaton (BOSF) bekerja sama dengan University of Zurich.

Carel P van Schaik, Direktur Institut dan Museum Antropologi, University of Zurich, Swiss, mengatakan bahwa dia telah mengamati orangutan Kalimantan di wilayah Tuanan, Kalimantan Tengah.

Selama 10 tahun, terdapat beberapa periode ketika kemarau berlangsung panjang, antara lain tahun 2006 dan 2009. Curah hujan pada tahun tersebut tergolong sedikit. Namun, orangutan tetap bisa bertahan.

Asap akibat kebakaran hutan biasanya berpengaruh pada produksi buah. Pada tahun 2007 misalnya, asap menyebabkan produksi buah sangat sedikit sehingga mengurangi ketersediaan makanan bagi orangutan. Namun, orangutan masih bisa beradaptasi.

"Mereka menjadi lebih soliter dan lebih diam. Mereka ada dalam survival mode. Metabolisme turun dan otot dikurangi. Mereka berada pada program hemat sehingga semuanya minimal," kata Van Schaik.

Van Schaik menuturkan, dalam kondisi kekurangan buah, orangutan beradaptasi dengan mencari alternatif pangan lain. Mereka memakan jenis makanan lain, seperti daun muda, kulit kayu, dan akar leguminosa.

"Jadi kuncinya sekarang menjaga habitat. Habitat jangan diganggu," kata Van Schaik saat ditemui Kompas.com dalam diskusi 10 Tahun Penelitian Orangutan, Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan, Kalimantan Tengah, di Universitas Nasional

Van Schaik mengatakan, ancaman bagi orangutan sendiri saat ini adalah manusia, lewat konversi lahan menjadi pertambangan dan kelapa sawit. Jika hal itu terus dilanjutkan, maka orangutan dipastikan akan musnah.

"Saya tidak terlalu optimis dengan masa depan orangutan di Indonesia. Tetapi yang penting sekarang adalah menjaga habitat dan memiliki kawasan konservasi untuk orangutan," ungkap Van Schaik.
Sumber

Sains

More on this category »

Pemilu 2014

More on this category »
 
Contact Us : Disclaimer | Advertise With Us
Copyright © 2013 Jendela Dunia - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger